Bagaimana Anak Saya Menyelamatkan Hidup Saya
Saya selalu merasa hubungan saya dengan matahari cukup sederhana: saya menyukainya. Saya lahir dan besar di Belgia, tempat langit kelabu dan hujan lebih sering menemani hari-hari dibandingkan cahaya matahari.

Karena itu, setiap kali matahari muncul, saya akan menjadi orang pertama yang menikmatinya. Saya menyukai kehangatannya, cahaya yang menyentuh kulit, bahkan warna kecokelatan yang muncul setelahnya. Rasanya sehat. Rasanya menyenangkan. Rasanya normal.

Bertahun-tahun kemudian, hidup saya berubah menjadi jauh lebih sibuk.

Sebagai Founder dan CEO Medix sekaligus pendiri platform As a Matter of Fact, sebagian besar waktu saya dihabiskan berpindah dari satu negara ke negara lain, menghadiri rapat, mengunjungi rumah sakit, berbicara di konferensi, dan duduk di ruang direksi. Jika dipikir-pikir, saya bahkan lebih sering berada di bawah lampu kantor dan kabin pesawat daripada di bawah sinar matahari.

Karena itulah, ketika seseorang berbicara tentang risiko akibat paparan matahari, saya tidak pernah benar-benar merasa itu relevan dengan diri saya.

Sampai suatu Sabtu, dua minggu yang lalu.

Hari itu cerah. Saya sedang berjalan santai di sekitar rumah ketika putra saya yang berusia 19 tahun memanggil.

“Mom, boleh lihat punggung Mom sebentar?”

Saya berhenti dan menoleh.

Dia memperhatikan sesuatu di punggung saya.

“Seingatku dulu tidak ada. Kelihatannya agak aneh. Sebaiknya Mom periksa ke dokter.“

Jujur saja, reaksi pertama saya adalah mengabaikannya. Mungkin karena saya sibuk. Mungkin karena saya merasa sehat. Atau mungkin karena saya sama seperti banyak orang lainnya: selalu berpikir hal serius terjadi pada orang lain, bukan pada diri sendiri. Meski begitu, saya meminta dia mengambil foto bagian yang dimaksud. Setelah itu saya mengirimkannya kepada salah satu dokter spesialis kulit yang bekerja sama dengan kami.

Balasannya datang hanya beberapa menit kemudian.

“Mungkin tidak apa-apa. Tapi sebaiknya diangkat dan diperiksa untuk memastikan.”

Seminggu kemudian, saya menjalani prosedur pengangkatan.

Semua orang terlihat tenang. Teman-teman dokter saya pun demikian.

“Kamu? Melanoma? Rasanya tidak mungkin.”

“Kamu sehat.”

“Kamu aktif.”

“Kamu terlihat baik-baik saja.”

Dan jujur saja, saya juga berpikir demikian.

Lalu hasil biopsi keluar.

Saya masih ingat jelas saat membacanya.

Localized Malignant Melanoma.

Melanoma ganas yang masih terlokalisasi.

Saat itu saya langsung memahami apa artinya.

Melanoma adalah bentuk kanker kulit yang paling berbahaya. Dalam kasus saya, kanker tersebut sudah melewati tahap paling awal dan mulai menembus lapisan kulit yang lebih dalam. Untungnya, kanker itu belum menyebar ke kelenjar getah bening maupun organ lain.

Kata yang paling penting adalah: belum.

Belum menyebar.

Belum terlambat.

Belum kehilangan kesempatan.

Saya segera menjalani operasi kedua untuk memastikan tidak ada sel kanker yang tersisa. Karena jika waktu terus berjalan dan kanker itu berkembang lebih jauh, pengobatannya bisa berubah menjadi jauh lebih kompleks, mulai dari imunoterapi hingga terapi target, dengan hasil yang jauh lebih tidak pasti.

Yang membuat saya semakin tersadar adalah fakta bahwa bahkan dokter bedah yang menangani saya pun tidak menduganya.

Pada awalnya ia mengira itu hanyalah blue nevus, sesuatu yang umumnya tidak berbahaya.

Setelah hasil keluar, ia berkata kepada saya,

“Saya tidak menyangka Anda yang mengalaminya.”

Kalimat itu terus terngiang di kepala saya.

Karena kenyataannya, melanoma memang tidak peduli siapa Anda.

Melanoma tidak peduli apakah Anda bekerja di bidang kesehatan.

Tidak peduli seberapa banyak dokter yang Anda kenal.

Tidak peduli seberapa sehat pola makan Anda.

Tidak peduli seberapa aktif gaya hidup Anda.

Ia hanya datang.

Dan sering kali datang diam-diam.

Mengapa saya menceritakan ini kepada Anda?

Karena saya sadar bahwa hari itu, yang menyelamatkan saya bukan teknologi canggih. Bukan jaringan profesional yang saya miliki. Bukan juga pengetahuan saya tentang dunia kesehatan.

Yang menyelamatkan saya adalah seorang anak berusia 19 tahun yang cukup peduli untuk memperhatikan sesuatu yang tampak berbeda.

Melanoma Sering Datang Tanpa Disadari

Melanoma kerap muncul di area tubuh yang jarang kita perhatikan, seperti punggung, kulit kepala, atau belakang lutut. Bentuknya bisa menyerupai tahi lalat biasa atau bercak kecil di kulit. Terkadang sedikit tidak simetris, warnanya berbeda, tepinya tidak beraturan, atau hanya terlihat “tidak seperti biasanya”.

Bahkan bagi orang tanpa latar belakang medis, lesi tersebut bisa tampak sama sekali tidak berbahaya.

Beberapa fakta yang perlu diketahui:

  • Setiap 5 menit, satu orang meninggal akibat melanoma di dunia.
  • Pada tahun 2022, lebih dari 325.000 orang didiagnosis melanoma secara global, dan lebih dari 57.000 orang meninggal karenanya.
  • Di Australia dan Selandia Baru, yang memiliki tingkat paparan sinar matahari sangat tinggi, melanoma merupakan salah satu kanker yang paling umum pada kelompok dewasa muda.
  • Di berbagai negara Eropa, khususnya kawasan Eropa Utara dan Barat, jumlah kasus terus meningkat. Dalam banyak kasus, deteksi dini menjadi pembeda antara pengobatan sederhana dan kondisi yang jauh lebih serius.

Jika Ada Satu Hal yang Ingin Saya Minta dari Anda:

  • Periksakan kulit Anda ke dokter spesialis kulit setidaknya setahun sekali. Jangan menunggu sampai ada sesuatu yang terasa salah.
  • Hargai orang-orang yang peduli dan memperhatikan Anda. Dalam kasus saya, perhatian seorang anak terhadap hal kecil ternyata menyelamatkan hidup ibunya.
  • Sesekali letakkan ponsel Anda. Perhatikan orang-orang yang Anda cintai. Pasangan Anda, anak Anda, orang tua Anda. Benar-benar perhatikan mereka. Kesadaran sederhana bisa menjadi penyelamat nyawa.

Sebagai tambahan, ada satu panduan sederhana yang sebaiknya diketahui semua orang, yaitu aturan ABCDE, metode praktis untuk mengenali tahi lalat atau bercak kulit yang mencurigakan:

A – Asymmetry (Asimetri)
Satu sisi berbeda dari sisi lainnya.

B – Border (Batas)
Tepi terlihat tidak beraturan, bergerigi, atau kurang jelas.

C – Color (Warna)
Terdapat variasi warna cokelat, hitam, merah, putih, atau biru dalam satu area yang sama.

D – Diameter
Umumnya berukuran lebih dari 6 mm, meskipun bisa juga lebih kecil.

E – Evolving (Perubahan)
Adanya perubahan ukuran, bentuk, warna, ketinggian permukaan kulit, atau munculnya gejala baru seperti gatal dan perdarahan. Jika ini terjadi, segera cari bantuan medis.

Melanoma tidak menunggu. Dan Anda pun tidak seharusnya menunda.

Dan untuk putra saya,

Terima kasih karena telah melihat sesuatu yang tidak bisa saya lihat sendiri.

Terima kasih karena memberi saya kesempatan untuk terus hidup, terus mencintai, terus memimpin, dan terus menikmati waktu yang masih saya miliki.

Saya berharap, melalui cerita ini, ada seseorang di luar sana yang mendapatkan kesempatan yang sama.

Karena terkadang, hidup bisa diselamatkan oleh sesuatu yang sangat sederhana: seseorang yang benar-benar memperhatikan.

Share:

Facebook
Twitter
LinkedIn
Skip to content
Medix Global
Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.