Cara memerangi Andropause
Apakahterapi penggantian testosteron (TRT) merupakan jawaban untuk penurunan kadar hormon pada pria paruh baya, atau apakah ada pilihan lain yang dapat mengoptimalkan produksi?

Pada tahun 1889, seorang dokter Prancis berusia 72 tahun bernama Charles-Edouard Brown-Sèquard memutuskan untuk mencoba dan menangkap proses penuaan dengan memberi dirinya suntikan harian yang terdiri dari darah testis dan air maninya sendiri, ditambah testis anjing dan marmot yang dijus. Setelah mencatat hasil positif dalam jurnal medis Lancet, Brown-Sèquard melanjutkan untuk mematenkan dan menjual hasil penelitianya dengan merek “Elixir of Life.”

Dia meninggal lima tahun kemudian. Tetapi gagasan untuk mengisi kembali hormon pria untuk memastikan usia tua yang lebih lama dan sehat tetap hidup.

Butuh satu abad lagi sebelum koyo tempel dan gel tosteron tes transdermal pertama dijual di pasar. Dalam satu dekade, penjualannya naik eksplosif di antara pria paruh baya yang berusaha untuk menambah hormon yang secara alami menurun secara progresif sebanyak 2% per tahun setelah mereka berusia empat puluhan dan seterusnya.

Pada saat seorang pria mencapai usia enam puluhan, ia memiliki resiko satu dari lima untuk menderita testosteron rendah.  Angka itu melonjak menjadi 35% pada tahun delapan puluhan.

Pada tahun 2011, penjualan produk terapi penggantian testosteron yang diresepkan  (TRT) telah melonjak lebih dari sepuluh kali lipat menjadi $1.8 miliar, dipimpin oleh AS. Namun, kontroversi pun menyusul, mencerminkan apa yang juga terjadi ketika penjualan terapi penggantian hormon wanita (HRT) mulai lepas landas.

Pada tahun 2002, wanita menjadi takut mengambil HRT setelah penelitian, yang menunjukan adanya hubungan dengan kanker payudara, stroke dan pembekuan darah.  TRT menyaksikan nasib serupa pada pertengahan dekade terakhir.

Sejumlah laporan penelitian menghubungkan tingginya tingkat hormon membawa peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Pada tahun 2014, hal ini mendorong Badan Pengawas Obat & Makanan AS (FDA) untuk mewajibkan label peringatan pada produk TRT.

Namun demikian, lembaga pemerintah mencatat bahwa studi yang menjadi dasar panduannya memiliki “keterbatasan signifikan” yang melemahkan nilai  mereka “untuk mengkonfirmasi hubungan kausal antara testosteron dan hasil kardiovaskular yang merugikan.”

Ini menyerukan penelitian lebih lanjut. Dan ini akan segera datang.

Hasil dari TRAVERSE study ((Testosterone Replacement for Assessment of long-term Vascular Events and efficacy ResponSE in hypogonal pada pria) dijadwalkan sebelum akhir tahun 2022. Studi ini, yang dimulai pada tahun 2018, merupakan  yang terbesar dan terpanjang yang memeriksa apakah TRT melindungi terhadap atau malah menjadi faktor risiko penyakit kardiovaskular.

Awal musim panas ini, meta-analisis dari 35 studi, mulai dari 1992 hingga 2018, menunjukan tidak ada peningkatan risiko.

Memang, penelitian lain menyoroti bahwa meningkatkan kadar testosteron pada laki-laki usia paruh baya dan seterusnya memiliki manfaat  perlindungan kardiovaskular.  Ini termasuk meningkatkan aliran darah koroner dan massa otot, serta mengurangi lemak di seluruh tubuh dan lemak visceral.

Manfaat lain, seperti efek testosteron pada libido, sudah terkenal.

Pada trial di tahun 2016 di AS memeriksa apa yang terjadi jika pria berusia 65 atau lebih kadar testosteronnya dinaikkan kembali ke kisaran yang sama dengan pria muda yang sehat. Hasilnya termasuk:  peningkatan hasrat seksual dan fungsi ereksi, serta peningkatan mineral tulang density dan kekuatan.  Para pria juga mencatat penurunan gejala depresi.

Jika TRT terus mengikuti pola yang ditetapkan oleh HRT, maka TRT dapat memperoleh kembali lintasan pertumbuhan sebelumnya, terutama jika ada kesadaran yang lebih besar tentang dampak kesehatan dan kesejahteraan dari penurunan level testosterone ini.

Pada penelitian untuk wanita, penelitian terbaru yang menyoroti manfaat HRT telah menyanggah penelitian yang lama, serta produk bio-identik baru telah menggantikan yang sintetis yang lama yang efek sampingya terkait dengan kanker.

Meningkatkan kesadaran

Dalam artikel terbaru kami tentang menopause, kami menyoroti bahwa meskipun ada kemajuan baru-baru ini, mayoritas dokter masih belum terlatih dalam soal ini dan banyak wanita tidak menyadari bahwa gejala yang mereka derita terkait dengan perubahan hormon.

Kedua masalah ini besar pada laki-laki. Ternyata sebagian karena kadar testosteron menurun jauh lebih bertahap daripada estrogen dan progesteron pada wanita.

Ini berarti bahwa banyak pria tidak menghubungkan gejala seperti kepercayaan diri yang lebih rendah dan kurangnya energy dengan penurunan hormon. Dan jika mereka  mengunjungi dokter mereka, mereka mungkin diresepkan anti-depresan sebagai solusinya.

Tetap fakta bahwa sementara ada banyak nama untuk tahap ini dalam kehidupan seorang pria – andropause, manopause, low-T, atau androgen deficiency pada rata-rata pria (ADAM) – kesadaran masih sangat terbatas.

Jadi pilihan apa yang dimiliki pria jika mereka merasa bahwa kadar testosteron mereka turun terlalu rendah?

TRT

Setiap orang yang berpikir untuk mendapat treatment TRT, kadar testosteronnya harus diuji terlebih dahulu.  Waktu terbaik untuk melakukan ini adalah di pagi hari begitu bangun tidur ketika hormon dalam tingkat puncak, karena tingkat hormone dapat berfluktuasi sebanyak 10% – 20% selama satu hari.

Beberapa negara mencatat hasil dalam nanomoles per liter (nmol/l), sementara yang lain menggunakan nanogram per decilitre (ng/dl). Tingkat rata-rata bervariasi dari lab ke lab, tetapi kisaran tipikal akan menjadi sekitar delapan hingga 30 nmol/l, atau 300 hingga 1.070 ng/dl.

Setiap tingkat di bawah bagian bawah rentang ini diklasifikasikan sebagai hipogonadisme.

Namun, hal ini juga penting untuk membedakan antara kadar testosteron total dan testosteron bebas (apa yang sebenarnya natural). Tingkat terakhir ini juga menurun seiring bertambahnya usia dan apa pun di bawah 0,225 nmol/l dianggap rendah dalam konteks ini.

Jika seorang pria memilih untuk mengambil TRT, ia memiliki sejumlah pilihan yang berbeda: suntikan, patch transdermal, pelet, tablet hisap dan krim topikal.

Setelah memulai pengobatan, penting untuk uji ulang setelah beberapa bulan dan kemudian setiap tahun karena banyak faktor selain usia mempengaruhi produksi testosteron.

Penyakit kronis tertentu dikaitkan dengan kadar testosteron rendah. Salah satunya adalah diabetes tipe 2. Diperkirakan bahwa sekitar sepertiga dari  semua penderita memiliki tingkat yang lebih rendah dari rata-rata. Lainnya termasuk HIV dan Aids.

Sebaliknya, kadar testosteron tinggi telah dikaitkan dengan peningkatan risiko melanoma ganas dan kanker prostat yang didiagnosis secara klinis.

Perubahan gaya hidup

Untuk pria yang tidak ingin mempertimbangkan TRT, ada sejumlah perubahan gaya hidup yang dapat meningkatkan produksi testosteron. Berikut adalah beberapa yang utama:

* Mendapatkan tidur malam yang baik: testosteron diproduksi saat tidur.

* Vitamin D yang memadai: tingkat rendah mengganggu jalur internal hormon.

* Peningkatan diet: makanan berikut adalah semua penguat testosteron – tuna dan ikan berminyak (zinc), sayuran berdaun hijau (magnesium), kacang Brazil (selenium) beri dan delima (antioksidan).

* Mempertahankan berat badan yang sehat: lemak mengandung enzim yang disebut aromatase, yang mengubah testosteron menjadi estrogen.

* Meningkatkan latihan: merangsang produksi testosteron melalui pembentukan otot. Mengangkat beban dan HIIT (latihan interval intensitas tinggi) merupakan kombinasi terbaik.

* Mengurangi stres: kadar kortisol tinggi menghambat produksi testosteron.

Share:

Facebook
Twitter
LinkedIn
Skip to content