Ketika Jantung Lepas Kendali: Apa itu Fibrilasi Atrium dan Bagaimana Cara Mengatasinya?
Fibrilasi Atrium adalah gangguan aritmia jantung paling umum di dunia tetapi masih sangat sulit untuk didiagnosis. Berikut ini yang dapat Anda lakukan untuk mengurangi risiko kondisi ini terjadi pada Anda

Atrial Fibrillation (AFib) adalah gangguan irama jantung yang paling umum di dunia. Setiap tahun, 4,7 juta pasien didiagnosis dengan AFib dan total lebih dari 33 juta orang di seluruh dunia menderita kondisi ini. Sebagai contoh, Atrial Fibrillation terjadi pada 0,9% populasi Singapura dan 0,8% populasi di Hong Kong. Gejala mungkin muncul secara berbeda untuk orang yang berbeda, tetapi gejala yang paling umum adalah detak jantung yang cepat dan nyeri dada. Namun, beberapa kasus tidak menunjukkan gejala yang terlihat atau ada yang dirasa tidak normal.


Ketika jantung berfungsi normal, ia memompa darah ke paru-paru dan bagian tubuh lainnya dengan irama tertentu, yang disebut “detak”. Detak jantung berubah frekuensi sesuai dengan kebutuhan tubuh. Namun, jika seseorang mengalami Fibrilasi Atrium, bagian atas (atrium) jantung berdetak dengan cepat, meskipun tubuh sedang dalam kondisi santai. Ini menyebabkan detak jantung yang meningkat dan kontraksi jantung yang tidak terkoordinasi, yang dikenal sebagai fibrilasi. DIrama jantung normal adalah 60-100 detak per menit, sementara selama episode Fibrilasi Atrium detak jantung mencapai antara 101-175 kali per menit.

Fibrilasi Atrium menyebabkan aliran darah yang tidak tepat dari jantung. Hal ini mengakibatkan kurangnya oksigen dalam sel-sel tubuh, yang menyebabkan pusing, rasa lemas, sesak napas dan, dalam beberapa kasus, pingsan. Durasi dan frekuensi setiap “episode” dapat bervariasi antara pasien, tergantung pada jenis fibrilasi. Selain itu, fibrilasi yang cepat menyebabkan kontraksi atrium parsial, yang berarti bahwa darah dalam atrium jantung tidak sepenuhnya mengalir keluar, meninggalkan kelebihan darah di jantung dan tidak memompakan seluruh darah ke bagian tubuh kita. Ini meningkatkan kemungkinan terjadinya pembekuan darah di dalam jantung. Gumpalan darah ini kemudian dapat terbawa ke otak, memblokir pembuluh kecil di dalamnya dan akhirnya menyebabkan stroke.

Saat Jantung Tidak Sinkron

Jadi, kita sudah memahami arti AFib, tetapi apa sebenarnya yang menyebabkannya?

Di dalam jantung, terdapat sekelompok sel khusus yang disebut Node Sinus yang berfungsi sebagai alat pacu jantung alami tubuh. Dengan memproduksi dan mengatur waktu sinyal listrik ke berbagai bagian jantung, Node Sinus menyebabkan otot jantung berkontraksi secara tersinkronisasi dan terkoordinasi. Berbagai penyakit dapat membebani jantung menyebabkan ketegangan pada Node Sinus, yang pada gilirannya mengganggu aktivitas mereka. Misalnya, tekanan darah tinggi atau Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) menyulitkan jantung untuk memompa darah secara teratur, sehingga Node Sinus bekerja lebih keras dan akhirnya menjadi terkikis. Obat-obatan tertentu juga dapat mengganggu aktivitas Node Sinus. Dalam kasus seperti itu, jantung mungkin “tidak sinkron” dan mengakibatkan fibrilasi. Pada sepertiga dari semua kasus AFib, kerusakan Node Sinus terjadi tanpa penyakit sebelumnya dan disebabkan oleh trauma, ketidakseimbangan elektrolit atau konsumsi alkohol yang berlebihan.

Meskipun Fibrilasi Atrium tidak dianggap mengancam jiwa, jika tidak diobati, hal ini dapat meningkatkan risiko serangan jantung (15% hingga 20% serangan jantung terjadi pada pasien dengan riwayat Fibrilasi Atrium), gagal jantung atau stroke. Ahli jantung memperkirakan bahwa AFib yang tidak diobati meningkatkan peluang kematian akibat penyakit kardiovaskular. Namun demikian, kesadaran global akan bahaya-bahaya ini dan pentingnya perawatan masih sangat rendah.

Menurut sebuah survei oleh Asosiasi Jantung Amerika (American Heart Association) di antara pasien-pasien dengan Fibrilasi Atrium, kurang dari setengah jumlah penderita sadar akan adanya peningkatan risiko penyakit jantung dan kematian. Hanya sepertiga dari mereka yang disurvei menganggap diagnosis ini sebagai kondisi medis yang serius.

Terkadang butuh waktu untuk tercapainya diagnosis

Ada beberapa jenis Fibrilasi Atrium: Paroxysmal AFib, yang secara spontan kembali ke detak jantung normal setelah beberapa menit atau jam; AFib persisten, yang membutuhkan intervensi eksternal untuk mengembalikan detak jantung yang normal; dan Fibrilasi Atrium Kronis, yang tidak merespon terhadap obat atau alat yang mendorong normalisasi elektrik denyut jantung.

Karena tidak semua jenis fibrilasi terjadi terus menerus, diagnosis mungkin memerlukan waktu dan tes yang tepat dan harus dilakukan oleh ahli jantung yang berspesialisasi dalam aritmia. Untuk mencapai diagnosis, alat EKG (elektrokardiogram) dipasang secara non-invasif ke tubuh pasien untuk mencatat aktivitas jantung. Pemantauan dapat dilakukan di klinik atau melalui perangkat seluler yang dikenal sebagai Holter Monitor, yang memungkinkan pasien berjalan dan melakukan rutinitas hariannya sementara aktivitas jantung dipantau selama 24 jam atau lebih.

Dalam kasus-kasus tertentu, untuk mencapai diagnosis, Fibrilasi Atrium diinduksi dalam kondisi terkendali dan di bawah pengawasan medis, misalnya, melalui aktivitas fisik yang berat. Dalam kasus lain, dokter mungkin perlu melakukan pemeriksaan elektrofisiologis invasif untuk menentukan sumber aritmia. Tes darah mungkin juga diperlukan untuk memeriksa faktor latar belakang yang mungkin menyebabkan masalah jantung.

Bagaimana cara perawatannya?

Opsi perawatan untuk Fibrilasi Atrium tergantung pada jenis dan frekuensi fibrilasi. Dalam beberapa kasus, ahli jantung akan menawarkan perawatan dengan obat-obatan, seperti beta blocker yang mengurangi kemungkinan aritmia. Atau, seorang dokter dapat merekomendasikan antikoagulan (pengencer darah) untuk mengurangi resiko terjadinya pembekuan darah akibat Fibrilasi yang meningkatkan resiko stroke. Jika Fibrilasi Atrium tidak membaik meskipun sudah menjalani pengobatan tersebut diatas, atau jika pasien mengalami fibrilasi yang parah, inversi listrik (Kardioversi) mungkin diperlukan. Prosedur ini dilakukan dengan defibrillator di bawah pengawasan dokter yang terlatih.


Dalam situasi di mana fibrilasi terjadi kembali meskipun perawatan tersebut diatas telah dilakukan, prosedur bedah mungkin diperlukan. Selama operasi, area-area jaringan jantung yang diidentifikasi sebagai stimulus fibrilasi dihilangkan, atau sebagai alternatif, alat pacu jantung eksternal ditanamkan untuk memantau kontraksi jantung secara teratur, menggantikan alat pacu jantung alami tubuh, yaitu Node Sinus.

Apa Yang Seharusnya Kita Lakukan

Para peneliti masih berusaha untuk memahami sepenuhnya alasan mengapa fungsi Node Sinus terganggu sedemikian rupa sehingga mengarah ke Fibrilasi Atrium. Namun, hingga temuan konklusif diperoleh, rekomendasi utama bagi mereka yang ingin menjaga kesehatan jantung adalah mempertahankan gaya hidup sehat: menjaga berat badan normal, menghindari merokok, mengurangi konsumsi alkohol dan kafein, serta mengurangi faktor stres dapat membantu menghindari penyakit jantung.

Jika Anda merasa bahwa Anda mungkin memiliki gejala jantung, apa pun itu, bahkan jika gejalanya mungkin tidak cocok dengan gejala khas serangan jantung, Anda harus segera berkonsultasi dengan dokter atau pergi ke unit gawat darurat di rumah sakit dan memeriksa kemungkinan terjadinya  Fibrilasi Atrium atau kondisi jantung lainnya sedini mungkin, karena diagnosis yang segera ditangani dapat menyelamatkan nyawa.

Share:

Facebook
Twitter
LinkedIn
Skip to content